Minggu, 24 November 2013

Sekedar Coretanku...

Ini tulisan pertamaku setelah lama sekali tak pernah menulis . . .

Ceritanya, kemarin hari Minggu tanggal 24 November 2013 di Aula Fak.Ekonomi UII Yogyakarta, saya baru saja ikut Talkshow bersama Bang Tasaro GK dan Bang Tere Liye. Tema talkshow waktu itu yaitu tentang "Memaknai Kehidupan Melalui Sastra".

Antusias bangetlah yah mau ketemu penulis favourite. Acaranya dah ditunggu2 dari jauh2 hari. Novel dan kamera dah dipersiapkan, kali ja nanti bisa minta tandatangan sama foto dengan Bang Tere Liye.

Saat acara dimulai waktu dah menunjukkan pukul 08:20, dh bete sch nunggu lama, apalagi dah nunggu dari pagi. Untung ada sahabat baik saya sebut saja si Alwi yang berbaik hati menemani saya mengikuti acara tersebut. Sehingga waktu nunggunya gak bete2 bgt.
Yupz,.akhrnya acaranya dimulai.. Pertama dbuka dengan mendengarkan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh salah satu mahasiswa UII. Nyaman banget dengernya, suaranya itu lho merdu banget, apalagi ayat suci yang dibacain, bkin adem hati dan mengobati kebetean nunggu. Samalah ya dengan acara pada umumnya dipenuhi dengan sambutan. Mulai dah acaranya, si moderatorpun dipanggil ke atas panggung dan menempati singasananya.
Moderatorpun membuka acaranya dengan apik, bahasanya interaktif dan enak didengar. Ternyata, sesi pertama oleh Bang Tasaro GK. Mendengar nama penulis satu ini sebenarnya sangat asing ditelinga. Gak pernah sepertinya saya membaca novel-novel yang iya tulis. Novel yang sangat inspiratif dan yang sedang hangat-hangatnya di dunia pembacanya adalah novel yang berjudul "MUHAMMAD, ...... " . Saat mendengar nama penulis ini yang lantas teringat dengan Gunungkidul, tempat saya tinggal dan bekerja sekarang. Biasanya Gunungkidul biasa disingkat GK, dan benar saja setelah saya searching tentang profil Bang Tasaro GK, dia memang lahir dari Gunungkidul. Nama GK dibelakang nama penanya itu memang sengaja iya cantumkan untuk mengenang kota kelahirannya.

Awal mula Bang tasaro GK memberikan materinya terlihat ucapannya yang mudah banget dicerna. Dengan gaya anak mudanya, Bang Tasaro berhasil menyihir dan membuat gelak tawa diawal pembukaan materinya. Baru saja asyik mendengarkan Bang Tasaro memberikan materinya, tiba-tiba saja perut saya gak enak. Perih sekali rasanya, saya diamkan sajalah, kan masih asyik mendengarkan. Tapi makin lama gak dirasakan perut saya makin perih dan terasa tidak enak sekali. Memang dari pagi belum ada sesuap nasipun masuk ke perut saya, saking antusiasnya saya malas sarapan dan segera pergi ke acara talkshownya. Si Alwipun bingung, dan merasa kasihan melihat saya mengeluh kesakitan terus. Diapun meminta saya untuk pulang saja. Namun saya menolak, saya belum bertemu dengan penulis favorit saya, Bang Tere Liye. Sayapun hanya bisa merunduk menahan sakit sambil sesekali mendengarkan Bang Tasaro berucap. Ingin sekali rasanya mendengarkan dengan seksama, namun perut ini tidak dapat diajak kompromi. Padahal terlihat asyik sekali para peserta talkshow yang lain mendengarkan Bang Tasaro berucap, terdengar riuh suara dan gelak tawa mereka menanggapi materinya. Dan akhirnya hingga selesai Bang Tasaro memberikan materi, sayapun tidak dapat menangkap apa yang dibacarakannya.
Moderatorpun mengambil alih lagi waktu dan melanjutkan sesi berikutnya dengan memanggil pembicara yang sangat ditunggu-tunggu yaitu Bang Tere Liye. Dengan mengenakan baju switer santai warna hijau dan kepala yang ditutup dengan penutup kepala dengan warna senada Bang Tere masuk kedalam aula dengan santai dan duduk disamping moderator. Kesan pertama yang saya dapatkan saat pertama bertemu dengan penulis favorit saya itu, yaitu santai. Bang Tere terlihat begitu santai sekali. Raut wajah orang yang hidupnya selalu dibawa enjoy, tanpa beban.
Pemberian materipun dimulai, dan akhirnya menginjak sesi dengan Bang Tere perut saya mau diajak kompromi. Perih yang begitu terasa dilambung kian menghilang. Dan sayapun dengan hikmat menyimak segala uacapan yang keluar dari mulut Bang Tere. Dia bercerita dengan begitu singkat dan jelas. Penuh dengan perumpaan dan pengadaian seperti halnya yang sering disampaikan melalui tulisan-tulisannya. Dan benar saja, kata Bang Tere segala ucapan dan materi yang telah ia sampaikan hari ini memang ada di page2 FB yang sering ia posting. Tapi tidak masalah itu, walau sudah mengerti arah pembicaraan Bang Tere saya mendengarkan dengan baik-baik. Saya resapi lagi kata-kata dia. Dengan singkat Bang Tere menyelesaikan materinya, dan menyerahkan kembali sesi berikutnya kepada moderator. Sesi berikutnya adalah tanya jawab. Di buka beberapa termin untuk sesi tanya jawab ini. Sesi pertama oleh tiga orang peserta. Pertanyaan para peserta ini kebanyakkan lebih kepada pertanyaan kepo kata Bang Tere. Di setiap pertanyaanpun yang ditujukkan kepada Bang Tasaro dijawabnya dengan lugas dan jelas. Berbeda dengan Bang Tere, karena pertanyaan lebih bersifat retorik lagi-lagi Bang Tere hanya menjawab dengan singkat dan padat. "Baca saja tulisan saya!", katanya jelas. Memang pertanyaan dari para peserta ini sudah terjawab jelas ditulisan-tulisannya. Karna saya sendiri mengikuti tulisan Bang Tere yang terposting rapi dan rajin di facebook, sayapun mengerti jawaban dari pertanyaan peserta-peserta itu. Masuk ditermin kedua, ternyata adzan dzuhur berkumandang. Waktupun dihentikan sejenak. Tetapi tiba-tiba terdengar suara dari depan. Bang Tere menginterupsi pelaksanaan acara yang menabrak waktu dzuhur. Sebab katanya, belum pernah dia menghadiri acara yang sampai menabrak waktu dzuhur. Akhirnya, acarapun dihentikan sejenak untuk melaksanakan sholat. Memang dari awal juga saya agak merasakan pelaksanaan acara yang agak berantakkan. Tapi tidak apalah, saya tetap menikmati acara tersebut. Mungkin dengan adanya kejadian seperti ini bisa mengingatkan panitia acara untuk membuat acara yang lebih baik lagi. Setelah sholat, moderator mengambil alih waktu lagi dan melanjutkan termin selanjutnya. Dan akhirnya acarapun berlangsung dengan lancar dan diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dari panitia untuk para pembicara yaitu Bang Tasaro GK dan Bang Tere Liye.

Dari seluruh pembicaraan yang dilakukan pada talkshow tersebut terdapat beberapa pengertian yang dapat saya ambil. Yang pertama adalah bahwa Hidup itu harus punya amalan yang istimewa. Maksudnya itu, kita hidup harus bisa terlihat mempunyai sesuatu yang berbeda dari yang lain, yang bisa terlihat, dan di ingat. Jika kita melakukan ibadah yang biasa-biasa saja orang lain tentunya juga sama melakukannya. Namun jika kita melakukan hal yang istimewa. Pasti terlihat berbeda dan di ingat. Tentunya setiap orang pasti berkeingan untuk hidupnya tersebut dapat terkenang dan bermanfaat hingga akhirnya dirinya meninggal. Ya, begitupun saya. Saya ingin hidup saya ini tidak biasa-biasa saja dan ingin meninggalkan hal yang bermanfaat hingga saya mati nanti. Entah kapan hal itu dapat terwujud, tapi pasti saya akan melakukannya. Biar terlihat istimewa nanti dimata Tuhan kita, siapa yang tidak ingin bukan??
Yang kedua itu tentang tulisan. Jika kita menulis, maka menulislah dengan senang hati dan gembira. Menulislah dengan konsisten, menulislah dan jangan pernah berfikir jadi apa tulisan kita nanti. Dengan menulis yang baik secara tidak sadar kita juga telah menyebarkan buah-buah kebaikkan. Itulah kata-kata Bang Tere yang sangat mengena dihati saya.
Mungkin saya akan mengikuti jejak Bang Tasaro GK, Bang Tere Liye, serta para penulis yang lainnya. Mungkin dengan menulis ini saya ingin mengawali langkah dengan untuk membuat suatu amalan yang istimewa dan dapat bermanfaat bagi orang lain.
Mulailah dari sekarang, jangan tunggu esok. Semakin kita menunda-nunda maka kita akan semakin tertinggal.

Seperti yang saya alami beberapa waktu ini. Saya selalu saja menunda-nunda apa saja yang harus dan yang ingin saya kerjakan. Dan akhirnya saya menyesal sendiri tidak segera mungkin melakukannya. Tidak ada kata terlamabat, dan harus segara saya lakukan. Maka saya akan memulai hari ini. :D :D :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar